Dirilis oleh askes/transaktual pada
Rabu, 11 Jul 2012
Telah dibaca 827 kali
Eksistensi budaya Mane’e akan
terus ada jika masih terdapat terumbu karang disana.
Transaktual.
Jarang ada penangkapan ikan yang didahului
dengan menggiring ikan menggunakan rotan yang diikat janur dan dilakukan
beramai-ramai dari kedalaman tiga meter, kemudian dikurung di lokasi tertentu
di pesisir pantai. Peristiwa unik tersebut masih dilakukan masyarakat pada
sejumlah pulau di Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara.
Masyarakat Talaud menyebutnya Mane’e.
Mane’e memang sungguh istimewa. Mane’e adalah sebuah tradisi
turun-temurun menangkap ikan tradisional, yang digelar sekali dalam setahun di
Pulau Intata, Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.
Warga setempat mengartikan Mane’e sebagai
melaksanakan sesuatu atas dasar kerja sama, kebersamaan, dan persatuan.
Semangat kebersamaan inilah yang kemudian menjadi inspirasi warga Pulau
Intata-Kakorotan, menangkap ikan tanpa menggunakan bom atau racun seperti yang
biasa dilakukan nelayan di tempat lain.Keistimewaan lain, misalnya, penentuan
waktu acara Mane’e didasarkan pada perhitungan gerakan bintang dan pasang-surut
tertinggi air laut. Biasanya dilakukan di Bulan Mei.
Menurut Yusuf Talau, pria unsur
warga Desa Kakorotan, di bulan ini biasanya air akan surut pada titik terendah
sehingga hamparan terumbu karang (nyare, sebutan warga), tampak jelas dan tidak
tertutup seluruhnya oleh air laut.Pukul 11.00-12.00 WITA menjadi titik terendah
air surut di Pulau Intata dan beberapa pulau lainnya yang berdekatan.
Sehari sebelum tradisi mane’e dimulai,
warga dipimpin seorang ratumbanua atau tua-tua adat setempat menggelar
sebuah ritual adat yang disebut malahaan atau sebuah upacara syukur.Setelah
ikan digiring dengan janur yang terikat pada rotan ke sebuah kolam di dekat
pantai, semua warga masyarakat diizinkan menangkapnya dengan tangan.
Ribuan orang yang mengikuti upacara
adat Mane’e ini kemudian menyerbu ke lokasi yang telah dikurung janur.
Tua-muda, pejabat atau orang biasa, larut dalam suasana ini."Hasil
tangkapan ikan akan dikumpul, dibagi kepada tamu dan warga yang ikut proses
adat mane’e," kata Martin L Binambuni, Camat Nannusa.Martin menambahkan,
Dari sembilan lokasi di Pulau Intata
dan sekitarnya satu lokasi di antaranya penangkapan ikan hanya dibolehkan
sekali dalam setahun saat acara Mane’e. Luas setiap lokasi berkisar enam sampai
delapan hektar. Di luar lokasi Mane’e, nelayan tetap boleh menangkap ikan
sepanjang tahun.
Keseriusan Pemerintah Daerah
Seiring dengan perkembangan zaman,
Mane’e pun menjadi populer di berbagai pelosok dunia. Bahkan, kemudian berubah
menjadi ikon pariwisata di Kepulauan Talaud. Apalagi, tradisi yang telah
berlangsung ratusan tahun itu tidak dijumpai di daerah lain.
Hal inilah yang mendorong Pemerintah
Daerah Kabupaten Kepulauan Talaud untuk terus melestarikan tradisi Mane’e
sebagai ikon wisata dan kearifan lokal masyarakat Talaud. Menurut Sekretaris
Daerah Kabupaten Talaud, Djemi Gagola, prosesi adat Mane’e, yang kemudian
dikemas menjadi sebuah festival yang selanjutnya mendatangkan ribuan orang,
harus digarap serius. Sarana pendukung pariwisata dengan kemudahan-kemudahan
akses transportasi akan memberikan kenyamanan kepada wisatawan.
Dia mengakui, fasilitas yang dibangun
di Pulau Intata belum lengkap dan seiring waktu masih perlu
pengembangan-pengembangan menjadi daerah wisata yang menjanjikan di waktu
mendatang. Menurut dia, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten
Talaud, dan Pulau Intata khususnya, tak sebanding dengan Bali dan tempat tujuan
wisata lainnya di luar Sulawesi Utara.
Namun, dia yakin, apabila pemerintah
membangun fasilitas serta infrastruktur pendukung pariwisata dan sukses
melakukan promosi wisata di berbagai negara dan perhelatan, Pulau Intata pasti
akan dikunjungi. “Tentu saja dukungan dari semupa pihak dalam hal pelestarian
kebudayaan yang sungguh indah ini.
Eksistensi budaya Mane’e akan terus ada
jika masih terdapat terumbu karang disana. Untuk itu pemerintah daerah juga akan
menyiap regulasi yang tegas dalam upaya pelestarian dan penjagaan terhadap
terumbu karang di Kepulauan Talaud. Kami bersama-sama warga, tetua adat, dan
pemuka agama setampat akan terus mengupayakan itu,” papar
Djemi.(askes/transaktual)
Telah dibaca 827 kali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar