Minggu, 06 Oktober 2013

Rindo.Maweru:by.. “Posisi China dalam Perang Dingin




 “Posisi China dalam Perang Dingin
BAB I
I . PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
            Perang Dingin ialah suatu konflik interstate (antar Negara Adidaya) paska perang Dunia ke-II. Dengan aktor utamanya; Amerika Serikat dan sekutunya melawan Uni Soviet dan sekutunya. Dikatakan sebagai Perang dingin, karena tidak adanya deklarasi formal akan perang tersebut dan juga kontak senjata secara langsung. Hanya merupakan perang urat syaraf antar keduanya. Adanya perbedaan National Interest (kepentingan nasional); Demokrasi Liberal melawan Komunis. Dan perbedaan ideologi seperti; Amerika Serikat menyusung prinsip Demokrasi Liberal yang berdasarkan sistem sosial pada masyarakatnya dan sistem politik yang bergantung kepada peran tiap-tiap individu dalam PEMILU serta sistem ekonomi, kapitalis yang menyediakan kesempatan bagi tiap-tiap individu untuk mengejar/memenuhi kebutuhan ekonomi dengan sedikit maupun banyak intervensi dari Negara/pemerintah. Sedangkan Uni Soviet mengedepankan prinsip ideologi komunisme sebagai sistem internasional dan tujuan Negara pada praktiknya.
Tujuan negaranya mencakup ideologi Marxisme dimana ada konsep akan penguasan dengan Total Control  oleh satu individu (kaum borjuis) dalam memproduksi sesuatu dan memiliki Authority Power (wewenang kekuasaan) dalam mengaturnya, serta perbedaan Geografis dan Politik (Containment Policy). Diplomat dan ahli sejarah juga staf senior Departemen Kenegaraan Amerika Serikat, George Kennan berpendapat;“ The Soviet Union would always feel military insecurity, it would conduct an agreesive foreign policy“. Pandangan tersebut diutarakan dengan melihat pendapat para Policy Makers (pembuat keputusan) Amerika Serikat yang beranggapan bahwa Interest (kepentingan) Amerika Serikat bergantung kepada Uni Soviet.
Perang Dingin yang dapat berkembang menjadi sebuah malapetaka global, yang mungkin telah melibatkan penggunaan senjata nuklir. Dominasi  Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap para sekutunya menyebabkan hubungan internasional sangat dipengaruhi kepentingan kedua negara adidaya.  Tidak mengherankan muncullah blok-blok aliansi yang lebih didasarkan pada persamaan ideologis. Hampir semua langkah diplomatik dipengaruhi oleh tema-tema ideologis yang kemudian dilengkapi dengan perangkat militer.  Pertentangan sistem hidup komunis dan liberal ini sedemikian intensifnya sehingga pada akhirnya perlombaan senjata tak dapat dihindarkan lagi karena dengan jalan menumpuk kekuatan nuklir itulah jalan terakhir menyelamatkan ideologinya.
Globalisasi konflik, dengan munculnya; Pemblokadean Tembok Berlin (1948-1949), Perang Korea (1950-1953), krisis misil Kuba (1962), Perang Vietnam (1965-1973), dan Perang Afghanistan (1979). Disebagian belahan Dunia lainnya tidak bereaksi secara langsung terhadap Perang Dingin yang hanya memberikan influence (pengaruh) terhadap munculnya ideologi-ideologi baru. Seperti halnya tokoh dari Cina Zhou Enlai telah lama hidup di Eropa pada masa Perang Dingin. Dimana ia berkecimpung kedalam partai komunis. Sepulangnya dia ke tanah air, bersama dengan koleganya. Mao Zedong mentransformasikan dan menginterpretasikan kedalam bentuk baru dari paham komunis. Munculnya paham tersebut berawal dari kemenangan Partai Komunis Cina dalam konflik politik di Cina.
Pada tahun 1923, Partai Komunis Cina (pimpinan Mao Zedong), beraliansi dengan partai Kuomintang (pimpinan Sun Yat Sen). Tidak berlangsung lama aliansi tersebut pecah menjadi suatu Perang Sudara yang tak terelakkan. Pada tahun 1949, Perang Saudara antara keduanya berakhir. Pada 1 oktober 1949, Mao Zedong memproklamirkan kemerdekaan Republik Rakyat Cina. Partai Komunis Cina menjadi pemegang mandat pemerintahan. Berdirinya RRC diakui oleh Uni Soviet dan Negara-negara komunis lainnya. Beberapa Negara yang tidak menganut paham komunis pun turut mengakuinya, seperti: India, Inggris, Perancis dll. Sebaliknya Amerika Serikat tidak mau mengakui keadaulatan wilayah Cina dan hanya mendukung permerintahan Republik Nasionalis Cina pimpinan Chiang Khai Shek di Taiwan secara aklamasi, karena mengedepankan format ideologi demokrasi yang serupa dengan Amerika Serikat. Bahkan, Amerika Serikat pun menentang keberadaan RRC di PBB.
Berakhirnya Perang Dingin itu sendiri berdasarkan berbagai faktor, seperti; pengaruh dari kepemimpinan Mikhail Gorbachev yang dapat membina hubungan baik dengan Amerika Serikat. Dan pengunduran dirinya pada tahun 1991, membuat Uni Soviet pecah. Dan pada tahun 1992-1993 Rusia dan Negara pecahan Uni Soviet menjadi Negara-negara independen. Menurut buku yang dikeluarkan oleh Francis Fukuyama: “Kapitalis Win“ dan adanya pandangan; “The end of evil empire “, yaitu suatu Arm race (keunggulan militer) yang dimenangi Amerika Serikat. Dari sisi ekonomi melihat perlunya suatu ongkos/biaya dengan jumlah uang yang banyak. Dengan demikian hanya pihak Amerika Serikat yang mampu menjangkaunya. Kemudian adanya New World Order; Unipolarity pada sistem internasional yang dijalankan oleh George W. Bush (Amerika Serikat).
Keterlibatan RRC dalam kemunculan Perang Dunia berawal saat naiknya Mao Zedong dalam kepemimpinan Cina menimbulkan efek yang signifikan dalam praktek politik perimbangan kekuatan antara 2 Negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pengaruh dari sosok Mao Zedong yang sangat signifikan, baik terhadap Negara Cina dan Negara lainnya. Di Cina ia mentransformasikan 1 milyar orang dengan  cara menghapuskan sistem sosial lama/tradisional, seperti; Landlord (tuan tanah). Ia juga menaikan taraf hidup dengan ditingkatkannya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dan bahkan ia juga melenyapkan nyawa 1 milyar orang.
B.RUMUSAN MASALAH
1.mengetahui keterlibatan cina pada perang dingin.
2.mengetahui pengaruh mao zedong terhadap keterlibatan pada perang dingin.
3.mengetahui dampak perang dingin bagi cina.
4.bagaimana paham komunisme di cina.
C.TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan perumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1Mengetahui keterlibatan cina pada perang dingin.
2.Mengetahui dan menjelaskan dampak  terhadap cina pada perang dingin
3.Untuk lebih mengetahui dan memahami proses terjadinya perang dingin.
D.MANFAAT PENELITIAN
            Dari hasil penelitian nanti dapat di harapkan dapat memberikan kegunaannya sebagai berikut:                                                                                
1.Secara Teoritis:berguna untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi ilmu pengetahuan menyangkut latar belakang cina pada perang dingin.
2.Secara Praktis, berguna untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah Indonesia guna memahami betapa pentingnya Pengaruh perang dingin terhadap dunia Internasional.
  
II . HISTORIOGRAFI
Dari perspektif kekuatan militer dan persenjataan, RRC mulai mengembangkan proyek teknologi persenjataan nuklirnya sejak 1957. Proyek tersebut dibangun dengan bantuan Uni Soviet dalam pembiayaan dan asisten teknologi. Pengembangan teknologi persenjataan di Cina dapat dilihat dalam argumentasi bahwa dalam kajian Perang Dingin, konsep self help dan state survival hanya dapat dicapai dengan meningkatkan unsur power suatu negara. Bahkan, pembangunan angkatan bersenjata ini menjadikannya sebagai negara kelima di dunia yang mampu membuat bom atom pada 1964. Self help adalah pandangan bahwa kekuatan negara tidak dapat diandalkan dari adanya proses aliansi, tetapi harus dibangun secara mandiri. State survival adalah prinsip yang menekankan pentingnya menciptakan ketahanan negara. Power adalah prinsip yang menekankan pentingnya pengembangan teknologi persenjataan seoptimal mungkin yang memunculkan efek deterrence (penangkalan) bagi negara lain untuk menyerang negara yang bersangkutan.
Dalam konteks Cina, pembangunan teknologi persenjataan yang didukung Uni Soviet telah membuat Amerika Serikat memperhitungkan kekuatan Cina sebagai salah satu potensi ancaman bagi Blok Barat atau setidaknya kekuatan yang seimbang. Dalam konstelasi Perang Dingin, Cina secara geopolitik dan geostrategis memiliki 2 keuntungan dalam pertarungan ideologi:
-  Pertama, Cina menjadi negara potensial sebagai target perluasan pengaruh ideologi dari kedua negara adikuasa sekaligus berperan sebagai kekuatan sentral dari ideologi yang dimenangkan dalam pertarungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Kedua, posisi geografis Cina yang strategis menjadi keuntungan tersendiri bagi kedua negara adidaya dalam menyebarluaskan ideologi masing-masing di kawasan Asia Tengah dan Asia Tenggara, terutama dalam efisiensi penyebaran masing-masing ideologi ke wilayah sekitarnya.
Perang Dingin yang tadinya dicirikan oleh ketegangan antara kedua contending superpowers - Amerika Serikat dan Uni Soviet.  Namun posisi Mao dari Cina dalam Perang Dingin, merupakan kunci dalam banyak hal, tetapi tidak sekeliling pusat. Pengamatan yang dilakukan oleh para ilmuwan politik Andrew J. Nathan dan Robert S. Ross membuat pikiran sehat: "Selama Perang Dingin, Cina adalah satu-satunya negara besar yang berdiri di persimpangan dari dua kekuatan kamp, sebuah target untuk mempengaruhi dan permusuhan keduanya". Dengan jumlah penduduk terbesar dan menduduki wilayah yang ketiga terbesar di dunia, Cina merupakan faktor kekuatan yang tidak dapat diabaikan. 
Pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an, ketika Mao dari Cina memasuki aliansi strategis dengan Uni Soviet, Amerika Serikat segera merasa terancam dengan serius. Offensives dihadapi oleh negara-negara komunis dan revolusioner/radikal nasionalis kekuatan di Asia Timur. Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, situasi berikut dikembalikan sepenuhnya split antara Cina dengan Uni Soviet dan penyesuaian dengan Amerika Serikat.  Sebagai hasil dari harus menghadapi Barat dan China secara bersamaan, Uni Soviet dan kekuatan overextended, timbulah kontribusi yang signifikan pada akhir dari runtuhnya kekaisaran Soviet pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Munculnya Mao dari Cina sebagai negara yang unik revolusioner pada akhir tahun 1940-an juga mengubah orientasi dari Perang Dingin dengan pergeseran yang sebenarnya dari Eropa ke Asia Timur, karena ternyata akan membuat Asia Timur menjadi kawasan utama dari Perang Dingin, sementara pada saat yang bersamaan, akan membantu Perang Dingin untuk tetap menjadi "dingin".
Bila revolusi Komunis Cina nasional mencapai kemenangan pada tahun 1949, secara global di Perang Dingin adalah jeda penting. Dua kejadian penting di pemblokadean tembok Berlin 1948-1949 dan Uni Soviet berhasil menguji sebuah bom atom pada Agustus 1949. Keduanya digabungkan untuk mengajukan tantangan yang serius kepada dua superpowers. Terhadap latar belakang ini, Moskow memiliki visi berpaling ke Asia Timur. Pada Juni-Agustus 1949, pada malam kemenangan bagi revolusi Komunis Cina, pemimpin nomor dua dari Partai Komunis Cina (ccp), Liu Shaoqi, diam-diam berkunjung ke Moskow untuk bertemu dengan Joseph Stalin.
 Kedua pemimpin menyimpulkan bahwa "situasi revolusioner" sekarang ada di Asia Timur. Dalam kesepakatan mengenai "pembagian kerja" antara Cina dan Uni Soviet revolusi komunis untuk perdagangan dunia, sedangkan mereka memutuskan bahwa Uni Soviet akan tetap menjadi pusat internasional proletar (buruh) revolusi. Pelaksanaan perjanjian ini mengakibatkan Cina memberikan dukungan untuk Ho Chi Minh di Vietnam, dan pada bulan Oktober 1950, intervensi besar-besaran dalam Perang Korea, membuat Mao dari Cina memerangi imperialis AS. Sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an, Asia Timur tetap menjadi fokus utama dari Perang Dingin. Sementara itu Cina ,memainkan role play (peran sentral) yang signifikan pada saat krisis selat Taiwan (1954-1955, 1958, 1995-1996) dan Perang Vietnam (1979).
Perang Dingin di Asia meluas setelah RRC berusaha melaksanakan politik luar negeri yang ekspansif. Hal ini dikarenakan Mao Zedong berusaha menjadikan RRC sebagai negara terkuat di Asia dan juga menyebarkan revolusi ala Mao kepada negara-negara berkembang. Dengan melihat School of Thought (pendekatan dalam ilmu Hubungan Internasional) melalui aliran Behavioralisme, yaitu memahami perilaku internasional dan sistem internasional. Dalam konteks Perang Dingin menurut Richard Snyder dan Morton Kaplan; “banyak faktor yang mempengaruhi perilaku suatu Negara; diantaranya lingkungan domestik dari suatu Negara tersebut”. Pendudukannya atas Tibet pada 1950, keterlibatannya dalam Perang Korea (1950-1953), serta klaimnya atas Taiwan tidak hanya mengkhawatirkan negara-negara Barat, tetapi juga Uni Soviet. Perjanjian Cina-Uni Soviet tahun 1950 mengenai bantuan Uni Soviet kepada Cina ternyata tidak berlangsung lama. Penyebabnya, terjadi perbedaan interpretasi antara pemimpin RRC (Mao) dan pemimpin Uni Soviet (Stalin dan Khruzchev). Dalam menentang Uni Soviet, Mao menganggap bahwa model komunis RRC lebih baik dan lebih murni dibandingkan dengan komunis Uni Soviet. Oleh karena itu, komunis RRC lebih pantas untuk memimpin komunisme di seluruh dunia.
Pada masa kepemimpinan Stalin, hubungan RRC dan Uni Soviet sebenarnya sangat erat, karena kedua negara tersebut menganut paham sosialis-komunis. Strategi aliansi yang diterapkan Uni Soviet dengan menggandeng RRC tahun 1949-1950 menjadi salah satu faktor penyebab kemunculan poros barat-timur dalam Perang Dingin. Selain RRC, poros timur di kawasan Asia juga diwakili oleh Vietnam, Korea Utara, Laos, dan Kamboja. Dalam hal strategi, hal tersebut menjadi sebuah ancaman serius bagi sebuah kepentingan ekonomi, politik, dan penyebaran ideologi demokrasi liberal Amerika Serikat. Strategi aliansi Mao ini memaksa Amerika Serikat memfokuskan perhatiannya kepada 2 hal, yakni perkembangan ideologi komunis di Eropa Timur dan RRC. Aliansi kekuatan Uni Soviet dan Cina kemudian menjadi parameter atas melebarnya ruang lingkup Perang Dingin dari kawasan Eropa ke Asia. Akibatnya, penanaman pengaruh militer dan pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia pun menjadi semakin kuat. Parameternya terdapat pada pemberian bantuan militer dan persenjataan Amerika Serikat di Vietnam Selatan dan Korea Selatan. Setelah Stalin wafat pada 1955, hubungan Uni Soviet dan RRC merenggang. Hal ini terjadi karena Uni Soviet di bawah Khruzchev bersikap terlalu lunak dan kompromi terhadap Amerika Serikat. Sikap Khruzchev tersebut oleh Mao Zedong dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Revolusi Komunisme Internasional. Pertentangan memuncak ketika terjadi sengketa perbatasan antara 2 negara komunis tersebut.
Bagi Uni Soviet, Manchuria merupakan daerah strategis, tetapi Mao berusaha mengambil alihnya. Sementara itu, Mongolia yang berstatus negara merdeka dimasukkan ke dalam wilayah Uni Soviet sebagai pengganti Manchuria. Selain itu, Uni Soviet pun menjalin kerja sama dengan Korea Utara mengakibatkan hubungan Uni Soviet dan RRC semakin panas. Uni Soviet kemudian menempatkan sekitar satu juta tentara angkatan darat dan udara lengkap dengan persenjataan ofensif termasuk senjata nuklir di seluruh daerah garis perbatasan dengan RRC (Tibet, Singkiang, Mongolia, dan Manchuria). Sementara itu, di Asia Tenggara, Uni Soviet memperkuat kedudukannya dengan memberi bantuan kepada Vietnam untuk membendung RRC di bagian selatan. Keadaan tersebut menyebabkan RRC merasa terkepung dan segera meningkatkan pertahanan militernya.
Menteri Luar Negeri Cina, Zhou Enlai, berhasil mempengaruhi beberapa negara tetangga agar memihak kepada Cina. Pangeran Sihanouk dari Kamboja direkrut. Tak hanya itu, Indo-Cina yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat juga didekati. Sejak 1970-an, Perang Dingin antara Cina dan Amerika Serikat mereda setelah terjadi pendekatan oleh kedua belah pihak. Penyebabnya, RRC melihat bahwa Uni Soviet lebih berbahaya dibandingkan Amerika Serikat. Oleh karena itu, RRC berusaha menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat. Maka, pada Februari 1972, ketika Presiden Amerika Serikat, Richard M. Nixon menawarkan kunjungan ke Peking, Menlu Zhou Enlai menerimanya. Kunjungan ini juga diikuti oleh Perdana Menteri Jepang, Tanaka. Bagi Uni Soviet, kunjungan ini adalah upaya kedua negara mengancam kepentingan Uni Soviet di Asia. Kunjungan persahabatan itupun menciutkan nyali dari  Uni Soviet untuk menyerang RRC.
Hubungan RRC dan Uni Soviet tak kunjung membaik. Paska wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 pelaksanaan pemerintahan dalam negeri RRC sendiri dilakukan oleh Deng Xiao Ping (pengganti Mao), yang giat membersihkan aparaturnya dari pengaruh pemerintahan lama. Pada masanya, banyak partai yang menyebut dirinya Maois lenyap, namun berbagai kelompok komunis di seluruh dunia, khususnya yang bersenjata seperti Partai Komunis India, Partai Komunis Nepal, dan Tentara Rakyat Baru di Filipina, terus mengembangkan gagasan Maois dan memperoleh perhatian pers. Kelompok-kelompok ini biasanya berpendapat bahwa gagasan Mao telah dikhianati sebelum diterapkan dengan semestinya. Deng Xiao Ping sendiri memberikan banyak kontribusi dalam menjalankan roda pemerintahan. Policy (kebijakan) yang terealisasi antara lain menurunkan tingkat perkembangan populasi, menaikan standar pendidikan dan menjalin hubungan baik dengan Negara – Negara Barat. Akan tetapi kinerja dari Deng Xiao Ping tercoreng pada saat peristiwa pembantaian di Lapangan Tiananmen.


III . METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah. Menurut Suryabrata dalam Metode Penelitian (1994: 16) tujuan penelitian historis untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat, semua upaya tersebut harus melelui proses pengumpulan data.
 Teknik Pengumpulan Data
            Penelitian ini dilakukan secara library research atau kepustakaan. Adapun sumber-sumber yang penulis gunakan dalam penelitian ini terdiri dari sumber primer dan sumber skunder. Menyangkut dengan kajian sejarah, maka penulisan ini menggunakan penelitian historis. Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, menveritifikasikan serta mensistensikan bukti-bukti untuk menegahkan fakta dan menegahkan fakta dan memperoleh kesimpulan.
            Penulisan sejarah yang berkenaan dengan analisis yang kejadiannya telah berlangsung di masa lalu, penelitian tentang sejarah tidak mungkin lagi mengamati kejadian yang akan diteliti. Sehingga penulisan ini berdasarkan atas sumber primer dan skunder, yang dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer yang di gunakan dalam penulisan ini yaitu buku-buku yang di tulis oleh pelaku sejarah, dokumen-dokumen, laporan kegiatan, serta arsip peninggalannya yang dapat di proleh di perpustakaan  dan badan arsip maupun intansi yang berkaitan.
2. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data
            Untuk menghasilkan suatu karya/kisah sejarah seseorang harus berpegangan pada metode Historis, ada beberapa langkah perlu di patuhi oleh seorang peneliti yaitu: Heuristik (pengumpulan data), kritik, interpresentasi, dan pengkisahan. (Nugroho Notosusanto, 1978:11).                                              
            Setelah data penelitian terkumpul kemudian penulis melakukan kritik sumber yaitu mempersoalkan otentik tidaknya suatu sumber yang telah didapatkan. Mengenai asli tidaknya suatu sumber harus dilakukan analisis sumber. Yaitu mencoba mengetahui apakah suatu sumber itu primer ataukah skunder. Sedangkan untuk mengetahui utuh tidaknya suatu sumber harus di atasi dengan melakukan kritik teks. Kemudian melakukan kritik ekstern dan kritik intern. Kritik atau sumber dilakukan pada sumber hasil studi kepustakaan. Hal ini di sebabkan tidak semua keterangan sumber mengenai peristiwa yang diamati mutlak diterima, sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut dan perbandingan antara sumber tersebut, untuk menegakkan fakta sehingga penulisan tetang topik pembahasan bersifat netral. Setelah melakukan kritik, dapat menghimpun banyak sekali informasi mengenai suatu periode sejarah yang kita pelajari. Berdasarkan semua keteragan itu dapat disusun fakta-fakta sejarah yang dapat di buktikan kebenarannya. Tidak semua fakta dapat di maksukkan karena yang di ambil hanyalah fakta yang relevan dan sesuai dengan topik yang ingin penulis paparkan. Pada tahap akhir penulis melakukan penulisan dengan  merangkaikan sejumlah fakta yang relevan, sehingga terwujudlah suatu tulisan sejarah sebagai cerita yang menyangkut tentang posisi cina pada perang dingin.





  


DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Perang Dingin (bahasa Inggris: Cold War, bahasa Rusia: холо́дная война́, kholodnaya voyna, 1947–1991)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar