BAB I
I .
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Perang Dingin ialah suatu konflik interstate (antar Negara Adidaya)
paska perang Dunia ke-II. Dengan aktor utamanya; Amerika Serikat dan sekutunya
melawan Uni Soviet dan sekutunya. Dikatakan sebagai Perang dingin, karena tidak
adanya deklarasi formal akan perang tersebut dan juga kontak senjata secara
langsung. Hanya merupakan perang urat syaraf antar keduanya. Adanya perbedaan National
Interest (kepentingan nasional); Demokrasi Liberal melawan Komunis. Dan
perbedaan ideologi seperti; Amerika Serikat menyusung prinsip Demokrasi Liberal
yang berdasarkan sistem sosial pada masyarakatnya dan sistem politik yang
bergantung kepada peran tiap-tiap individu dalam PEMILU serta sistem ekonomi,
kapitalis yang menyediakan kesempatan bagi tiap-tiap individu untuk
mengejar/memenuhi kebutuhan ekonomi dengan sedikit maupun banyak intervensi
dari Negara/pemerintah. Sedangkan Uni Soviet mengedepankan prinsip ideologi
komunisme sebagai sistem internasional dan tujuan Negara pada praktiknya.
Tujuan negaranya mencakup ideologi Marxisme dimana ada
konsep akan penguasan dengan Total Control oleh satu individu
(kaum borjuis) dalam memproduksi sesuatu dan memiliki Authority Power (wewenang
kekuasaan) dalam mengaturnya, serta perbedaan Geografis dan Politik (Containment
Policy). Diplomat dan ahli sejarah juga staf senior Departemen Kenegaraan
Amerika Serikat, George Kennan berpendapat;“ The Soviet Union would always
feel military insecurity, it would conduct an agreesive foreign policy“.
Pandangan tersebut diutarakan dengan melihat pendapat para Policy Makers
(pembuat keputusan) Amerika Serikat yang beranggapan bahwa Interest
(kepentingan) Amerika Serikat bergantung kepada Uni Soviet.
Perang Dingin yang dapat berkembang menjadi sebuah
malapetaka global, yang mungkin telah melibatkan penggunaan senjata nuklir.
Dominasi Uni Soviet dan Amerika Serikat terhadap para sekutunya
menyebabkan hubungan internasional sangat dipengaruhi kepentingan kedua negara
adidaya. Tidak mengherankan muncullah blok-blok aliansi yang lebih
didasarkan pada persamaan ideologis. Hampir semua langkah diplomatik
dipengaruhi oleh tema-tema ideologis yang kemudian dilengkapi dengan perangkat
militer. Pertentangan sistem hidup komunis dan liberal ini sedemikian
intensifnya sehingga pada akhirnya perlombaan senjata tak dapat dihindarkan
lagi karena dengan jalan menumpuk kekuatan nuklir itulah jalan terakhir
menyelamatkan ideologinya.
Globalisasi konflik, dengan munculnya; Pemblokadean
Tembok Berlin (1948-1949), Perang Korea (1950-1953), krisis misil Kuba (1962),
Perang Vietnam (1965-1973), dan Perang Afghanistan (1979). Disebagian belahan
Dunia lainnya tidak bereaksi secara langsung terhadap Perang Dingin yang hanya
memberikan influence (pengaruh) terhadap munculnya ideologi-ideologi
baru. Seperti halnya tokoh dari Cina Zhou Enlai telah lama hidup di Eropa pada
masa Perang Dingin. Dimana ia berkecimpung kedalam partai komunis. Sepulangnya
dia ke tanah air, bersama dengan koleganya. Mao Zedong mentransformasikan dan
menginterpretasikan kedalam bentuk baru dari paham komunis. Munculnya paham
tersebut berawal dari kemenangan Partai Komunis Cina dalam konflik politik di
Cina.
Pada tahun 1923, Partai Komunis Cina (pimpinan Mao
Zedong), beraliansi dengan partai Kuomintang (pimpinan Sun Yat Sen). Tidak
berlangsung lama aliansi tersebut pecah menjadi suatu Perang Sudara yang tak
terelakkan. Pada tahun 1949, Perang Saudara antara keduanya berakhir. Pada 1
oktober 1949, Mao Zedong memproklamirkan kemerdekaan Republik Rakyat Cina.
Partai Komunis Cina menjadi pemegang mandat pemerintahan. Berdirinya RRC diakui
oleh Uni Soviet dan Negara-negara komunis lainnya. Beberapa Negara yang tidak
menganut paham komunis pun turut mengakuinya, seperti: India, Inggris, Perancis
dll. Sebaliknya Amerika Serikat tidak mau mengakui keadaulatan wilayah Cina dan
hanya mendukung permerintahan Republik Nasionalis Cina pimpinan Chiang Khai
Shek di Taiwan secara aklamasi, karena mengedepankan format ideologi demokrasi
yang serupa dengan Amerika Serikat. Bahkan, Amerika Serikat pun menentang
keberadaan RRC di PBB.
Berakhirnya Perang Dingin itu sendiri berdasarkan
berbagai faktor, seperti; pengaruh dari kepemimpinan Mikhail Gorbachev yang
dapat membina hubungan baik dengan Amerika Serikat. Dan pengunduran dirinya
pada tahun 1991, membuat Uni Soviet pecah. Dan pada tahun 1992-1993 Rusia dan
Negara pecahan Uni Soviet menjadi Negara-negara independen. Menurut buku yang
dikeluarkan oleh Francis Fukuyama: “Kapitalis Win“ dan adanya pandangan; “The
end of evil empire “, yaitu suatu Arm race (keunggulan militer) yang
dimenangi Amerika Serikat. Dari sisi ekonomi melihat perlunya suatu
ongkos/biaya dengan jumlah uang yang banyak. Dengan demikian hanya pihak
Amerika Serikat yang mampu menjangkaunya. Kemudian adanya New World Order;
Unipolarity pada sistem internasional yang dijalankan oleh George W.
Bush (Amerika Serikat).
Keterlibatan RRC dalam kemunculan Perang Dunia berawal
saat naiknya Mao Zedong dalam kepemimpinan Cina menimbulkan efek yang
signifikan dalam praktek politik perimbangan kekuatan antara 2 Negara adidaya,
Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pengaruh dari sosok Mao Zedong yang sangat
signifikan, baik terhadap Negara Cina dan Negara lainnya. Di Cina ia
mentransformasikan 1 milyar orang dengan cara menghapuskan sistem sosial
lama/tradisional, seperti; Landlord (tuan tanah). Ia juga menaikan taraf
hidup dengan ditingkatkannya pendidikan dan pelayanan kesehatan. Dan bahkan ia
juga melenyapkan nyawa 1 milyar orang.
B.RUMUSAN
MASALAH
1.mengetahui
keterlibatan cina pada perang dingin.
2.mengetahui
pengaruh mao zedong terhadap keterlibatan pada perang dingin.
3.mengetahui
dampak perang dingin bagi cina.
4.bagaimana
paham komunisme di cina.
C.TUJUAN
PENELITIAN
Sesuai dengan perumusan masalah di
atas, penelitian ini bertujuan untuk:
1Mengetahui
keterlibatan cina pada perang dingin.
2.Mengetahui
dan menjelaskan dampak terhadap cina
pada perang dingin
3.Untuk
lebih mengetahui dan memahami proses terjadinya perang dingin.
D.MANFAAT
PENELITIAN
Dari hasil
penelitian nanti dapat di harapkan dapat memberikan kegunaannya sebagai
berikut:
1.Secara Teoritis:berguna untuk memberikan pemahaman
dan menambah wawasan bagi ilmu pengetahuan menyangkut latar belakang cina pada
perang dingin.
2.Secara Praktis, berguna untuk memberikan sumbangan
pemikiran kepada pemerintah Indonesia guna memahami betapa pentingnya Pengaruh
perang dingin terhadap dunia Internasional.
II . HISTORIOGRAFI
Dari
perspektif kekuatan militer dan persenjataan, RRC mulai mengembangkan proyek
teknologi persenjataan nuklirnya sejak 1957. Proyek tersebut dibangun dengan
bantuan Uni Soviet dalam pembiayaan dan asisten teknologi. Pengembangan
teknologi persenjataan di Cina dapat dilihat dalam argumentasi bahwa dalam
kajian Perang Dingin, konsep self help dan state survival hanya
dapat dicapai dengan meningkatkan unsur power suatu negara. Bahkan,
pembangunan angkatan bersenjata ini menjadikannya sebagai negara kelima di
dunia yang mampu membuat bom atom pada 1964. Self help adalah pandangan
bahwa kekuatan negara tidak dapat diandalkan dari adanya proses aliansi, tetapi
harus dibangun secara mandiri. State survival adalah prinsip yang
menekankan pentingnya menciptakan ketahanan negara. Power adalah prinsip
yang menekankan pentingnya pengembangan teknologi persenjataan seoptimal
mungkin yang memunculkan efek deterrence (penangkalan) bagi negara lain
untuk menyerang negara yang bersangkutan.
Dalam konteks Cina, pembangunan teknologi persenjataan
yang didukung Uni Soviet telah membuat Amerika Serikat memperhitungkan kekuatan
Cina sebagai salah satu potensi ancaman bagi Blok Barat atau setidaknya
kekuatan yang seimbang. Dalam konstelasi Perang Dingin, Cina secara geopolitik
dan geostrategis memiliki 2 keuntungan dalam pertarungan ideologi:
- Pertama, Cina menjadi negara potensial sebagai
target perluasan pengaruh ideologi dari kedua negara adikuasa sekaligus
berperan sebagai kekuatan sentral dari ideologi yang dimenangkan dalam
pertarungan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
- Kedua, posisi geografis Cina yang strategis menjadi
keuntungan tersendiri bagi kedua negara adidaya dalam menyebarluaskan ideologi
masing-masing di kawasan Asia Tengah dan Asia Tenggara, terutama dalam
efisiensi penyebaran masing-masing ideologi ke wilayah sekitarnya.
Perang Dingin yang tadinya dicirikan
oleh ketegangan antara kedua contending superpowers - Amerika Serikat
dan Uni Soviet. Namun posisi Mao dari Cina dalam Perang Dingin, merupakan
kunci dalam banyak hal, tetapi tidak sekeliling pusat. Pengamatan yang
dilakukan oleh para ilmuwan politik Andrew J. Nathan dan Robert S. Ross membuat
pikiran sehat: "Selama Perang Dingin, Cina adalah satu-satunya negara
besar yang berdiri di persimpangan dari dua kekuatan kamp, sebuah target untuk
mempengaruhi dan permusuhan keduanya". Dengan jumlah penduduk terbesar
dan menduduki wilayah yang ketiga terbesar di dunia, Cina merupakan faktor
kekuatan yang tidak dapat diabaikan.
Pada akhir tahun 1940-an dan awal
1950-an, ketika Mao dari Cina memasuki aliansi strategis dengan Uni Soviet,
Amerika Serikat segera merasa terancam dengan serius. Offensives
dihadapi oleh negara-negara komunis dan revolusioner/radikal nasionalis
kekuatan di Asia Timur. Pada akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, situasi
berikut dikembalikan sepenuhnya split antara Cina dengan Uni Soviet dan
penyesuaian dengan Amerika Serikat. Sebagai hasil dari harus menghadapi
Barat dan China secara bersamaan, Uni Soviet dan kekuatan overextended,
timbulah kontribusi yang signifikan pada akhir dari runtuhnya kekaisaran Soviet
pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Munculnya Mao dari Cina sebagai
negara yang unik revolusioner pada akhir tahun 1940-an juga mengubah orientasi
dari Perang Dingin dengan pergeseran yang sebenarnya dari Eropa ke Asia Timur,
karena ternyata akan membuat Asia Timur menjadi kawasan utama dari Perang
Dingin, sementara pada saat yang bersamaan, akan membantu Perang Dingin untuk
tetap menjadi "dingin".
Bila revolusi Komunis Cina nasional
mencapai kemenangan pada tahun 1949, secara global di Perang Dingin adalah jeda
penting. Dua kejadian penting di pemblokadean tembok Berlin 1948-1949 dan Uni
Soviet berhasil menguji sebuah bom atom pada Agustus 1949. Keduanya digabungkan
untuk mengajukan tantangan yang serius kepada dua superpowers. Terhadap
latar belakang ini, Moskow memiliki visi berpaling ke Asia Timur. Pada
Juni-Agustus 1949, pada malam kemenangan bagi revolusi Komunis Cina, pemimpin
nomor dua dari Partai Komunis Cina (ccp), Liu Shaoqi, diam-diam berkunjung ke
Moskow untuk bertemu dengan Joseph Stalin.
Kedua pemimpin menyimpulkan
bahwa "situasi revolusioner" sekarang ada di Asia Timur. Dalam
kesepakatan mengenai "pembagian kerja" antara Cina dan Uni Soviet
revolusi komunis untuk perdagangan dunia, sedangkan mereka memutuskan bahwa Uni
Soviet akan tetap menjadi pusat internasional proletar (buruh) revolusi.
Pelaksanaan perjanjian ini mengakibatkan Cina memberikan dukungan untuk Ho Chi
Minh di Vietnam, dan pada bulan Oktober 1950, intervensi besar-besaran dalam
Perang Korea, membuat Mao dari Cina memerangi imperialis AS. Sepanjang tahun
1950-an dan 1960-an, Asia Timur tetap menjadi fokus utama dari Perang Dingin.
Sementara itu Cina ,memainkan role play (peran sentral) yang signifikan
pada saat krisis selat Taiwan (1954-1955, 1958, 1995-1996) dan Perang Vietnam
(1979).
Perang Dingin di Asia meluas setelah
RRC berusaha melaksanakan politik luar negeri yang ekspansif. Hal ini
dikarenakan Mao Zedong berusaha menjadikan RRC sebagai negara terkuat di Asia
dan juga menyebarkan revolusi ala Mao kepada negara-negara berkembang. Dengan
melihat School of Thought (pendekatan dalam ilmu Hubungan Internasional)
melalui aliran Behavioralisme, yaitu memahami perilaku internasional dan sistem
internasional. Dalam konteks Perang Dingin menurut Richard Snyder dan Morton
Kaplan; “banyak faktor yang mempengaruhi perilaku suatu Negara; diantaranya
lingkungan domestik dari suatu Negara tersebut”. Pendudukannya atas Tibet pada
1950, keterlibatannya dalam Perang Korea (1950-1953), serta klaimnya atas
Taiwan tidak hanya mengkhawatirkan negara-negara Barat, tetapi juga Uni Soviet.
Perjanjian Cina-Uni Soviet tahun 1950 mengenai bantuan Uni Soviet kepada Cina
ternyata tidak berlangsung lama. Penyebabnya, terjadi perbedaan interpretasi
antara pemimpin RRC (Mao) dan pemimpin Uni Soviet (Stalin dan Khruzchev). Dalam
menentang Uni Soviet, Mao menganggap bahwa model komunis RRC lebih baik dan
lebih murni dibandingkan dengan komunis Uni Soviet. Oleh karena itu, komunis
RRC lebih pantas untuk memimpin komunisme di seluruh dunia.
Pada masa kepemimpinan Stalin,
hubungan RRC dan Uni Soviet sebenarnya sangat erat, karena kedua negara
tersebut menganut paham sosialis-komunis. Strategi aliansi yang diterapkan Uni
Soviet dengan menggandeng RRC tahun 1949-1950 menjadi salah satu faktor
penyebab kemunculan poros barat-timur dalam Perang Dingin. Selain RRC, poros
timur di kawasan Asia juga diwakili oleh Vietnam, Korea Utara, Laos, dan
Kamboja. Dalam hal strategi, hal tersebut menjadi sebuah ancaman serius bagi
sebuah kepentingan ekonomi, politik, dan penyebaran ideologi demokrasi liberal
Amerika Serikat. Strategi aliansi Mao ini memaksa Amerika Serikat memfokuskan
perhatiannya kepada 2 hal, yakni perkembangan ideologi komunis di Eropa Timur
dan RRC. Aliansi kekuatan Uni Soviet dan Cina kemudian menjadi parameter atas
melebarnya ruang lingkup Perang Dingin dari kawasan Eropa ke Asia. Akibatnya,
penanaman pengaruh militer dan pertahanan Amerika Serikat di kawasan Asia pun
menjadi semakin kuat. Parameternya terdapat pada pemberian bantuan militer dan
persenjataan Amerika Serikat di Vietnam Selatan dan Korea Selatan. Setelah
Stalin wafat pada 1955, hubungan Uni Soviet dan RRC merenggang. Hal ini terjadi
karena Uni Soviet di bawah Khruzchev bersikap terlalu lunak dan kompromi
terhadap Amerika Serikat. Sikap Khruzchev tersebut oleh Mao Zedong dianggap
sebagai pengkhianatan terhadap Revolusi Komunisme Internasional. Pertentangan
memuncak ketika terjadi sengketa perbatasan antara 2 negara komunis tersebut.
Bagi Uni Soviet, Manchuria merupakan
daerah strategis, tetapi Mao berusaha mengambil alihnya. Sementara itu,
Mongolia yang berstatus negara merdeka dimasukkan ke dalam wilayah Uni Soviet
sebagai pengganti Manchuria. Selain itu, Uni Soviet pun menjalin kerja sama
dengan Korea Utara mengakibatkan hubungan Uni Soviet dan RRC semakin panas. Uni
Soviet kemudian menempatkan sekitar satu juta tentara angkatan darat dan udara
lengkap dengan persenjataan ofensif termasuk senjata nuklir di seluruh daerah
garis perbatasan dengan RRC (Tibet, Singkiang, Mongolia, dan Manchuria).
Sementara itu, di Asia Tenggara, Uni Soviet memperkuat kedudukannya dengan
memberi bantuan kepada Vietnam untuk membendung RRC di bagian selatan. Keadaan tersebut
menyebabkan RRC merasa terkepung dan segera meningkatkan pertahanan militernya.
Menteri Luar Negeri Cina, Zhou
Enlai, berhasil mempengaruhi beberapa negara tetangga agar memihak kepada Cina.
Pangeran Sihanouk dari Kamboja direkrut. Tak hanya itu, Indo-Cina yang
ditinggalkan oleh Amerika Serikat juga didekati. Sejak 1970-an, Perang Dingin
antara Cina dan Amerika Serikat mereda setelah terjadi pendekatan oleh kedua
belah pihak. Penyebabnya, RRC melihat bahwa Uni Soviet lebih berbahaya
dibandingkan Amerika Serikat. Oleh karena itu, RRC berusaha menjalin hubungan
baik dengan Amerika Serikat. Maka, pada Februari 1972, ketika Presiden Amerika
Serikat, Richard M. Nixon menawarkan kunjungan ke Peking, Menlu Zhou Enlai
menerimanya. Kunjungan ini juga diikuti oleh Perdana Menteri Jepang, Tanaka.
Bagi Uni Soviet, kunjungan ini adalah upaya kedua negara mengancam kepentingan
Uni Soviet di Asia. Kunjungan persahabatan itupun menciutkan nyali dari
Uni Soviet untuk menyerang RRC.
Hubungan RRC dan Uni Soviet tak kunjung
membaik. Paska wafatnya Mao Zedong pada tahun 1976 pelaksanaan pemerintahan
dalam negeri RRC sendiri dilakukan oleh Deng Xiao Ping (pengganti Mao), yang
giat membersihkan aparaturnya dari pengaruh pemerintahan lama. Pada masanya,
banyak partai yang menyebut dirinya Maois lenyap, namun berbagai kelompok
komunis di seluruh dunia, khususnya yang bersenjata seperti Partai Komunis
India, Partai Komunis Nepal, dan Tentara Rakyat Baru di Filipina, terus
mengembangkan gagasan Maois dan memperoleh perhatian pers. Kelompok-kelompok
ini biasanya berpendapat bahwa gagasan Mao telah dikhianati sebelum diterapkan dengan
semestinya. Deng Xiao Ping sendiri memberikan banyak kontribusi dalam
menjalankan roda pemerintahan. Policy (kebijakan) yang terealisasi antara lain
menurunkan tingkat perkembangan populasi, menaikan standar pendidikan dan
menjalin hubungan baik dengan Negara – Negara Barat. Akan tetapi kinerja dari
Deng Xiao Ping tercoreng pada saat peristiwa pembantaian di Lapangan Tiananmen.
III .
METODOLOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini digunakan metode sejarah. Menurut Suryabrata dalam Metode
Penelitian (1994: 16) tujuan penelitian historis untuk membuat rekonstruksi
masa lampau secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan,
mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti
untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat, semua upaya
tersebut harus melelui proses pengumpulan data.
Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan secara library research atau kepustakaan.
Adapun sumber-sumber yang penulis gunakan dalam penelitian ini terdiri dari
sumber primer dan sumber skunder. Menyangkut
dengan kajian sejarah, maka penulisan ini menggunakan penelitian historis.
Tujuan penelitian historis adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara
sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, menveritifikasikan
serta mensistensikan bukti-bukti untuk menegahkan fakta dan menegahkan fakta
dan memperoleh kesimpulan.
Penulisan sejarah yang berkenaan dengan analisis yang kejadiannya telah
berlangsung di masa lalu, penelitian tentang sejarah tidak mungkin lagi
mengamati kejadian yang akan diteliti. Sehingga penulisan ini berdasarkan atas
sumber primer dan skunder, yang dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library
research). Sumber primer yang di gunakan dalam penulisan ini yaitu
buku-buku yang di tulis oleh pelaku sejarah, dokumen-dokumen, laporan kegiatan,
serta arsip peninggalannya yang dapat di proleh di perpustakaan dan badan
arsip maupun intansi yang berkaitan.
2. Teknik Pengelolaan dan Analisis Data
Untuk menghasilkan suatu karya/kisah sejarah seseorang harus berpegangan pada
metode Historis, ada beberapa langkah perlu di patuhi oleh seorang peneliti
yaitu: Heuristik (pengumpulan data), kritik, interpresentasi, dan pengkisahan.
(Nugroho Notosusanto, 1978:11).
Setelah data penelitian terkumpul kemudian penulis
melakukan kritik sumber yaitu mempersoalkan otentik tidaknya suatu sumber yang
telah didapatkan. Mengenai asli tidaknya suatu sumber harus dilakukan analisis
sumber. Yaitu mencoba mengetahui apakah suatu sumber itu primer ataukah
skunder. Sedangkan untuk mengetahui utuh tidaknya suatu sumber harus di atasi
dengan melakukan kritik teks. Kemudian melakukan kritik ekstern dan kritik
intern. Kritik atau sumber dilakukan pada sumber hasil studi kepustakaan. Hal
ini di sebabkan tidak semua keterangan sumber mengenai peristiwa yang diamati
mutlak diterima, sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut dan
perbandingan antara sumber tersebut, untuk menegakkan fakta sehingga penulisan
tetang topik pembahasan bersifat netral. Setelah melakukan kritik, dapat
menghimpun banyak sekali informasi mengenai suatu periode sejarah yang kita
pelajari. Berdasarkan semua keteragan itu dapat disusun fakta-fakta sejarah
yang dapat di buktikan kebenarannya. Tidak semua fakta dapat di maksukkan
karena yang di ambil hanyalah fakta yang relevan dan sesuai dengan topik yang
ingin penulis paparkan. Pada tahap akhir penulis melakukan penulisan
dengan merangkaikan sejumlah fakta yang relevan, sehingga terwujudlah
suatu tulisan sejarah sebagai cerita yang menyangkut tentang posisi cina pada
perang dingin.
DAFTAR PUSTAKA
Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Perang Dingin (bahasa Inggris: Cold War, bahasa Rusia: холо́дная война́, kholodnaya voyna, 1947–1991)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar