INDONESIA
MASA PEMERINTAHAN SJAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
(1945 – 1949)
PROPOSAL SKRIPSI
Oeh
MASWARDI
1.1
Latar Belakang
Mr. Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir
di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal di Jakarta, 15
Februari 1989 pada umur 77 tahun) adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik
Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah
Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di
Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal
19 Desember 1948.
Sebelum kemerdekaan, Syafruddin pernah bekerja sebagai pegawai siaran radio
swasta (1939-1940), petugas pada Departemen Keuangan Belanda (1940-1942), serta
pegawai Departemen Keuangan Jepang.
Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (1945),
yang bertugas sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR
dan DPR. KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis
Besar Haluan Negara.
Syafruddin adalah orang yang ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk
Pemerintahan Darurat RI (PDRI), ketika Presiden Soekarno dan Wakil Presiden
Mohammad Hatta ditangkap pada Agresi Militer II, kemudian diasingkan oleh
Belanda ke Pulau Bangka, 1948. Syafruddin menjadi Ketua Pemerintah Darurat RI
pada 1948.
Atas usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia.
Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan
kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Pada 13 Juli 1949, diadakan
sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah
menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi
terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Syafrudin Prawiranegara pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri
Keuangan, dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan
pada tahun 1946, Menteri Keuangan yang pertama kali pada tahun 1946 dan Menteri
Kemakmuran pada tahun 1947. Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran
inilah terjadi Agresi Militer II dan menyebabkan terbentuknya PDRI.
Seusai menyerahkan kembali kekuasaan Pemerintah Darurat RI, ia menjabat sebagai
Wakil Perdana Menteri RI pada tahun 1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan
antara tahun 1949-1950. Selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, pada bulan
Maret 1950 ia melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga
nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu
dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.
Syafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang
pertama, pada tahun 1951. Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank
yang terakhir, yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.
Pada
awal tahun 1958, PRRI berdiri akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah karena
ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi dan pengaruh komunis (terutama PKI)
yang semakin menguat. Syafruddin diangkat sebagai Presiden PRRI yang berbasis
di Sumatera Tengah.
Pada bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah
pusat di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya
bergabung dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan
pemberian amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan
pemberontakan, termasuk PRRI.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang, yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut
:
1.2.1
Mengapa Sjarifuddin Prawiranegara
meperjuangkan kemerdekaan Indonesia ?
1.2.2
Bagaimana Peranan Sjarifuddin
Prawiranegara dalam pemerintahan Indonesia ?
1.2.3
Bagaimana kondisi ekonomi dan
politik masa pemerintahan Sjarifuddin Prawiranegara ?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalahan di atas, yang menjadi tujuan penelitian adalah sebagai berikut
:
1.3.1
Menganalisis Sjarifuddin
Prawiranegara meperjuangkan kemerdekaan Indonesia ?
1.3.2
Mendeskripsikan Peranan Sjarifuddin
Prawiranegara dalam pemerintahan Indonesia ?
1.3.3
Mendeskripsikan kondisi ekonomi dan
politik masa pemerintahan Sjarifuddin Prawiranegara ?
1.4
Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian nanti dapat di
harapkan dapat memberikan kegunaannya sebagai berikut
:
1.4.1
Secara
Teoritis, berguna untuk memberikan pemahaman dan menambah wawasan bagi ilmu pengetahuan menyangkut
latar belakang dan
Peranan Sjarifuddin Prawiranegara dalam pemerintahan Indonesia.
1.4.2
Secara Praktis,
berguna untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada pemerintah Indonesia guna
memahami betapa pentingnya Peranan
Sjarifuddin Prawiranegara dalam pemerintahan Indonesia.
1.5 Anggapan Dasar
Yang menjadi anggapan dasar dalam
penelitian ini adalah “Sjarifuddin Prawiranegara tetap berperan dalam
kemerdekaan Indonesia sebagai President
Darurat Republik Indonesia”.
1.6 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini
digunakan metode sejarah. Menurut Suryabrata dalam Metode Penelitian (1994:
16) tujuan penelitian historis untuk membuat rekonstruksi masa lampau
secara sistematis dan objektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi,
memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk
menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat, semua upaya tersebut
harus melelui proses pengumpulan data.
1.6.1 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan secara library research atau kepustakaan.
Adapun sumber-sumber yang penulis gunakan dalam penelitian ini terdiri dari
sumber primer dan sumber skunder. Menyangkut dengan kajian sejarah, maka penulisan ini
menggunakan penelitian historis. Tujuan penelitian historis adalah untuk
membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara
mengumpulkan, mengevaluasi, menveritifikasikan serta mensistensikan bukti-bukti
untuk menegahkan fakta dan menegahkan fakta dan memperoleh kesimpulan.
Penelitian ini mengunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang
menekankan kepercayaan terhadap apa adanya, sehingga bersifat netral dan
objektif. Hal ini dikarenakan untuk mendapatkan hasil yang baik dan tidak
menimbulkan kesan yang memihak. Penelitian deskriptif di maksudkan untuk
mengekplorasi dan menklarifikasi mengenai suatu peristiwa, dengan jalan
mendeskripsikan sejumlah variaber yang berkenaan dengan masalah yang di
teliti.(Margono, 2003: 20).
Penulisan sejarah yang berkenaan dengan analisis yang kejadiannya telah
berlangsung di masa lalu, penelitian tentang sejarah tidak mungkin lagi
mengamati kejadian yang akan diteliti. Sehingga penulisan ini berdasarkan atas
sumber primer dan skunder, yang dilakukan dengan penelitian kepustakaan (library
research). Sumber primer yang di gunakan dalam penulisan ini yaitu
buku-buku yang di tulis oleh pelaku sejarah, dokumen-dokumen, laporan kegiatan,
serta arsip peninggalannya yang dapat di proleh di perpustakaan dan badan
arsip maupun intansi yang berkaitan, sedangkan yang termasuk kedalam sumber
skunder dalam penulisan sejarah yaitu buku-buku yang di karang oleh Indonesia,
dan data lainnya yang relevan dapat di jumpai pada perpustakaan.
1.6.2 Teknik Pengelolaan dan
Analisis Data
Untuk
menghasilkan suatu karya/kisah sejarah seseorang harus berpegangan pada metode
sejarah, ada beberapa langkah perlu di patuhi oleh seorang peneliti yaitu:
Heuristik (pengumpulan data), kritik, interpresentasi, dan pengkisahan.
(Nugroho Notosusanto,
1978:11).
Setelah
data penelitian terkumpul kemudian penulis melakukan kritik sumber yaitu mempersoalkan
otentik tidaknya suatu sumber yang telah didapatkan. Mengenai asli tidaknya
suatu sumber harus dilakukan analisis sumber. Yaitu mencoba mengetahui apakah
suatu sumber itu primer ataukah skunder. Sedangkan untuk mengetahui utuh
tidaknya suatu sumber harus di atasi dengan melakukan kritik teks. Kemudian
melakukan kritik ekstern dan kritik intern. Kritik atau sumber dilakukan pada
sumber hasil studi kepustakaan. Hal ini di sebabkan tidak semua keterangan
sumber mengenai peristiwa yang diamati mutlak diterima, sehingga perlu
dilakukan pengkajian lebih lanjut dan perbandingan antara sumber tersebut,
untuk menegakkan fakta sehingga penulisan tetang topik pembahasan bersifat
netral.
Setelah
melakukan kritik, dapat menghimpun banyak sekali informasi mengenai suatu
periode sejarah yang kita pelajari. Berdasarkan semua keteragan itu dapat
disusun fakta-fakta sejarah yang dapat di buktikan kebenarannya. Tidak semua
fakta dapat di maksukkan karena yang di ambil hanyalah fakta yang relevan dan
sesuai dengan topik yang ingin penulis paparkan. Pada tahap akhir penulis
melakukan penulisan dengan merangkaikan sejumlah fakta yang relevan,
sehingga terwujudlah suatu tulisan sejarah sebagai cerita yang menyangkut
tentang peran Peranan Sjarifuddin Prawiranegara dalam pemerintahan Indonesia.
1.7 Tinjauan Pustaka
Dalam Buku Akmal Nasery Basral yang berjudul “Presiden Prawiranegara, Kisah 207
Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia” yang menjelaskan
tentang sejarah mencengangkan. Ada sisi lain dari sebuah historiografi yang
belum diakui, lantaran berbagai kepentingan yang terlibat di dalamnya. Yang
akhirnya Syarifuddin tak pernah tercatat pernah menjadi orang nomor satu di
negeri ini. Padahal, jasa-jasanya menyelamatkan kemerdekaan Indonesia dengan
memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia sangat penting. Pada 19
Desember 1948, saat agresi militer II Belanda ibu kota Yogyakarta berlangsung,
Presiden Sukarno tertangkap. Wakil Presiden Mohammad Hatta yang cemas dengan
kondisi itu segera mengirimkan telegram kepada Syarifuddin yang ketika itu
menjadi Menteri Kehakiman, yang sedang berada di Bukittingi untuk membentuk
PDRI.
Dalam buku George Mc Turnan Kahim. Dkk yang berjudul “Sjarifuddin Prawiranegara
Penyelamat Republik” menjelaskan tentang Sjafruddin adalah anggota Badan
Pekerja KNIP (1945), yang bertugas mempersiapkan garis besar haluan negara RI
sebelum merdeka. Mr Sjafruddin adalah pejabat menteri keuangan pertama RI
(1946), dan Menteri Kemakmuran (1947). Setelah PDRI yang diketuainya
menyerahkan mandat, ia sempat diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri pada tahun
1949. Ia kembali diangkat menjadi Menkeu di kabinet Hatta pada Maret 1950 dan
menelurkan kebijakan yang cukup terkenal saat itu, yakni pengguntingan uang
dari nilai Rp 5 ke atas. Ia kemudian menjabat sebagai Gubernur BI yang pertama
tahun 1951. Setelah itu, Mr Sjafruddin memilih bergabung dengan Pemerintah
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang juga berbasis di Sumatera, sebuah
gerakan untuk menentang kebijakan presiden Soekarno. Gara-gara sikapnya yang
berlawanan tersebut, ia sempat dipenjarakan oleh Soekarno tanpa proses
pengadilan.
Dalam Buku Boediono. Dkk yang berjudul “Sjarifuddin Prawiranegara Dari Ekonomi
Sampai PRRI” menjelaskan Sjarifuddin tentang pentingnya pemisahan Bank Sentral
dari pemerintah agar Bank Sentral dapat bekerja Otonom. Apabila kekuatan
politik dapat di berikan uang untuk menguasai sistem keuangan nasional. Di pula
yang pertama bertanggung jawab pegedarannya, dan sejarah mehendaki dia harus
bertanggung jawab atas “penguburannya”
Dalam buku Yapi yang berjudul “Aspirasi Islam dan penyalurannya” menjelaskan
tentang pemisahan Politik dari Agama untuk Islam merupakan suatu operasi yang
artificial, yaitu untuk melemahkan kekuatan politis Islam yang dianggab
berbahaya buat kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia. Di dalam
kenyataan umat Islamlah yang selalu berusaha yang selalu berusaha untuk
memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Tanpa saham umat Islam
dalam perjuangan kemerdekaan, tak mungkin Indonesia dapat memperoleh
kemerdekaan.
1.8 Sistematika
Penulisan
Untuk
lebih memudahkan pembaca dalam memahami isi pembahasan ini, terlebih dahulu
penulis menguraikan sistematika penulisan. Adapun sistematika Penulisan adalah
sebagai berikut :
Bab I,
Merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, anggapan dasar, hipotesis, dan sistematika penulisan.
Bab II,
Merupakan Tinjauan Pustaka yang mengulas berbagai tulisan yang pernah
diterbitkan mengenai permasalahan serta sudut pandang permasalahan yang akan
penulis bahas.
Bab III,
Metode Penelitian yang berisikan pendekatan dan pembahasan mengenai jenis
penelitian terhadap pegumpulan data sejarah.
Bab IV,
Merupakan Hasil Penelitian dari permasalahan mengenai Peranan Sjarifuddin Prawiranegara
dalam pemerintahan Indonesia
Bab
V, Merupakan Penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
George MC Turnan Kahim, 2011,
Sjarifuddin Prawiranegara penyelamat Republik. Jakarta, YAPI
Salim Agus, 2011, Sjarifuddin Prawiranegara
Aspirasi Islam dan Penyalurannya, Jakarta, YAPI
Boediono,2011, Sjarifuddin
Prawiranegara dari Ekonomi sampai PDRI, Jakarta, YAPI
Yapi, 2011, Peranan Islam dalam
Perjuangan Kemerdekaan dan Pembangunan, Jakarta, YAPI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar