Bagian 1
dari 2 tulisan
Buku-buku sejarah banyak
menyebutkan bahwa nenek moyang orang Indonesia berasal dari Yunan atau Hindia
belakang.
Di mana itu Yunan? Samakah dengan
Yunani? Di mana Hindia Belakang? Apakah itu sama dengan Persia?
Dan, kenapa banyak kata-kata dalam
bahasa Melayu Tua (Minangkabau) yang mirip dengan bahasa Inggris?
Apa hubungan antara peradaban Melayu
dengan Eropa? Model keterkaitan apa yang dimiliki oleh etnis Minangkabau dengan
bangsa Inggris? Misteri apa yang ada di dalamnya?
Tulisan ini mencoba mencari
jawabannya, melacak jejak peradaban tua antara suku Minangkabau dengan Eropa
Timur, nenek moyang bangsa Inggris yang juga nenek moyang orang Minang.
Meskipun data primer banyak diambil
dari unsur bahasa (warisan terbesar dari peradaban sebuah bangsa), namun buku
ini juga sarat akan implikasi sejarah, sosiologis, politik, arkeologis dan
keilmuan lainnya.
Banyak mata rantai (missing link)
yang putus, bisa tersambung lagi.
Meskipun bahasa Melayu Muda (deutro
Malay) banyak mengambil kata serapan dari bahasa Arab, namun tak sedikit
kata-kata asli (diserap ke dalam Bahasa Indonesia dan lazim dikenal hingga hari
ini) berasal dari penutur moyang Eropa.
Contoh padanan kata yang bermuatan
unsur Eropa seperti atok (atap) dengan attic, alang (elang) dengan eagle, awak
(kita) dengan our, biduak (biduk) dengan boat, karek (kerat/potong) dengan
carrat atau itiak (itik) dengan duck.
Atau, seperti kata elok dengan
elegant, buah dengan fruit, hati dengan heart, buruang (burung) dengan bird,
baro (bara) dengan fire / pharo, ampek (empat) dengan four, pacu dengan pace,
capek (cepat) dengan speed.
Orang boleh bilang bahwa durian
adalah sejenis buah-buahan khas dari Nusantara, tapi tak bisa dinafikan
kedekatan unsur katanya dengan thorn (duri) sehingga ia bernama durian.
Contoh kata-kata lazim lainnya
adalah etek (bibi) dengan aunty, duo (dua) dengan two, badan dengan body,
lintah dengan leech, lampu dengan lamp, atua (atur) dengan order atau sakik
(sakit) dengan sick hingga ke sadiah (sedih) dengan sad.
Tabel dan uraian berikut berisi
tentang kemiripan bahasa Minangkabau dengan bahasa Eropa yang dipilih dari
kata-kata yang lazim dipakai dan masih dipahami hingga kini.
Bahasa Minangkabau berperan penting
di Nusantara karena merupakan inti dari bahasa Melayu yang diserap menjadi
Bahasa Indonesia dan Malaysia.
Metode penelitian ini lebih tepat
disebut sebagai Metoda Tabulasi Diktif (Tabulated Diction Method) karena metoda
lain yang lebih pas sepertinya belum tersedia.
Pada perkampungan Minangkabau lama
(Pagaruyung) wilayah bagian timur istana adalah perbukitan. Ini menjelaskan
asal kata ateh (atas) yang mirip dengan east (timur) dalam bahasa Inggris.
Andaleh adalah sebutan yang dipakai
Iskandar Zulkarnain ketika menemukan Pulau Sumatera.
Sebagai Raja yang juga Nabi,
Iskandar melakukan perjalanan penaklukan atas tiga benua sembari memetakan Bumi
dan mencari jejak benua yang hilang, Atlantis, asal kata dari atlas.
Bentuk pemetaan benua yang hilang
itu mirip dengan daun talas (sejenis keladi) yang di masa itu banyak ditemukan
di Pulau Sumatera.
Kabarnya, peta Atlantis yang
digambarkan mirip daun talas (taleh) itu masih tersimpan di satu museum di
Turki. Akurasi pemetaan itu sempat membuat kalangan ilmuwan tercengang karena
mirip pemetaan hasil foto satelit.
Belum lama ini para ilmuwan juga
telah menemukan gunung terbesar di dunia, di bawah laut sebelah Barat pulau
Sumatera. Lebar puncaknya saja diyakini hampir mencapai 30 km.
Melihat ukurannya, gunung tersebut
(kita sebut saja Gunung Andaleh) cocok sebagai tempat dimulainya pembuatan
perahu Nabi Nuh, mengingat kapasitas yang besar yang dibutuhkan untuk menampung
semua jenis hewan berpasangan selain manusia.
Besarnya ukuran perahu membutuhkan
bahan pembuat yang banyak pula, yakni kayu dan bambu. Nabi Nuh AS tidak
kesulitan mendapatkan kedua jenis bahan itu dalam kuantitas banyak dari
hutan-hutan di Gunung Andaleh, mengingat ukuran gunung tersebut.
Inilah alasan utama kenapa rombongan
Zulkarnain memilih menetap di Sumatera Barat karena misi utamanya tercapai,
menemukan kembali jejak benua yang hilang, Atlantis, seperti diwasiatkan
guru-gurunya, Aristoteles, Plato dan Socrates, para filsuf terkemuka asal
Yunani.
Pada perkampungan Minang lama,
sebelah Barat istana Pagaruyung ditandai dengan contour tanah yang lebih
rendah. Ini menjelaskan asal kata bawah yang berdekatan dengan west dalam
bahasa Inggris atau baruah (bawah) yang berdekatan dengan barath dalam bahasa
Persia / Sanskerta.
Beberapa kata baru seperti balerong
atau balairung berasal dari gabungan balai dan ruang atau balai ruang. Ini
menunjukkan tren penyingkatan dua suku kata pada generasi muda.
Artinya, karena kata-kata yang mirip
dengan bahasa Inggris lebih singkat dan pendek dari kata-kata Minangkabau, maka
dapat disimpulkan bahwa bangsa Inggris lebih muda dari Minangkabau.
Artnya lagi, sejarah dan asal-muasal
bangsa Melayu jauh lebih tua dari bangsa Inggris.
Pola yang sama terjadi pada
kata-kata seperti garon atau karon dari kata karan (crown) dan ujuang (edge)
menjadi garonjong dan berakhir pada gonjong.
Kata-kata lama seperti baribeh (bear
atau beruang) sampai hari ini masih dipakai di beberapa desa di wilayah
kabupaten Agam terutama sekitar Matur sampai ke Palembayan, dan meski terbilang
langka, hewan itupun masih ada di hutan-hutan sekitar.
Baribeh sering bertemu dengan
pemburu saat kegiatan buru babi (Sumbar juga terkenal dengan PBB-nya, Persatuan
Buru Babi), terutama saat musim durian, makanan favoritnya.
Uniknya, hewan itu bisa memanjat
bahkan kuat untuk mencabik batang pohon, tapi turun dengan membuang badan
sedemikian rupa menempatkan belahan rusuk sebagai bantalan.
Menurut salah seorang tetua kampung
di Palembayan, karena berbulu tebal, baribeh sangat takut dengan api, bahkan
terhadap nyala korek api yang relatif kecil.
Apabila terjadi konflik, manusia
tidak perlu menggunakan senjata tajam, cukup memukul hidungnya, bagian terlemah
dan paling menyakitkan bila terkena pukulan, maka ia akan kabur sambil melolong
kesakitan.
Untuk menghormati kelangkaan hewan
tersebut, penulis di sebuah forum diskusi komunitas orang Minang pernah
menggunakan nama alias Sutan Baribeh, meski baribeh kurang familiar di telinga
mereka.
Kata cako (ago) masih dipertahankan
oleh segelintir komunitas di daerah luhak Agam dan kampung-kampung terdekat
yang berbatasan dengan kabupaten tersebut yang artinya, tadi.
Carano (coronation) adalah sejenis
tempayan terbuat dari tembaga tempat menaruh sirih yang biasa dipakai sebagai
alat untuk mengundang karib-kerabat ke sebuah perhelatan seperti acara
perkawinan.
Corong (karan, crown, horn) adalah
tanduk kerbau yang ujungnya diberi lobang tempat tiup dipakai sebagai terompet,
alat musik atau pengeras suara.
Meskipun adat Minangkabau adalah
matriarkat, tapi keputusan-keputusan penting diambil oleh penghulu adat yang
disebut datuk (dictate).
Karena itu di tengah masyarakat
Minangkabau dikenal jargon, “Hitam kata saya, hitam. Putih kata saya, putih.”
Dari sinilah terlihat unsur kedekatan makna datuk dengan dictate meskipun dalam
kultur matrilineal warisan jatuh ke tangan perempuan.
Dictate atau diktator adalah gelar
yang disandangkan kepada raja-raja di Eropa masa itu.
Dari kata durian yang mirip dengan
thorn (duri) dapat diketahui salah satu alasan pendatang Eropa Timur (betah
menetap di Sumatera a.l. karena enaknya buah durian.
Dukun (doctor) adalah sebutan yang
dipakai oleh pasukan Iskandar Zulkarnain untuk mengobat tentaranya yang
terluka, sekarang semacam Palang Merah atau Red Cross.
Pengobatan biasanya dilakukan dengan
ramuan dan obatan dari sari tumbuhan. Karena itu, nuansa dukun di sini lebih
dekat kepada herbalis ketimbang dukun mantra.
Sifat daun keladi digambarkan oleh
petikan lagu, “Ibarat air di daun keladi” yang seolah tidak pernah bisa
menempel dan bila tergoyang sedikit, mudah tergelincir dan jatuh.
Sifat glide (gelincir) pada daun
keladi ini digambarkan dalam kata-kata seperti galia (lihai) untuk konotasi
positif negatif dan galadia (nakal / penipu) untuk konotasi negatif.
Beberapa kelompok kata bisa
dimasukkan dalam pola thesaurus (memiliki makna yang berdekatan) seperti jarak,
jangkau dan jauah dengan direction, range and distance.
Lihat keterangan tentang kota Barus
yang mengekspor kapur (camphor) untuk mengawetkan mayat di Mesir.
Kemiripan kata kapak dengan axe dan
carpenter menunjukkan bahwa Minangkabau bukanlah berasal dari jaman batu baru
atau neolithicum.
Mereka muncul di zaman yang sudah
mengenal perkakas logam, karena sejauh ini tidak ditemukan peralatan dari batu.
Mereka sudah mengenal konstruksi
bangunan dari batu (seperti pada kata Batu Sangkar, Batu Hampar, Batu Limbak,
dll), maka dapat disimpulkan bahwa suku Minangkabau sudah mengenal kebudayaan
tembok seperti di Eropa pada masa itu (lk 300 tahun sebelum Masehi).
Batu mirip dengan beit (rumah) dalam
bahasa Ibrani.
Hal yang sama berlaku untuk atok
(atap) yang mirip dengan attic (loteng). Selain itu, juga dikenal transportasi
waktu itu yang disebut biduak (perahu), kata yang mirip dengan boat.
Penggunaan kata kabau (kerbau) yang
berdekatan dengan buffalo atau caribou (sejenis kerbau yang hidup di daerah
dingin) menunjukkan bahwa bangsa Minangkabau berasal (atau setidaknya) telah
mengenal pola kehidupan di daerah bersalju.
Kalaulah suku Minangkabau asli
berasal dari daerah tropis (Asia Tenggara) semata, bagaimana mungkin mereka
bisa mengenal habitat dan jenis hewan dari daerah bersalju?.
Dan ciri kebudayaan lain yang sulit
dipungkiri adalah penggunaan kata karek yang dipakai oleh masyarakat Eropa
dalam menentukan kualitas intan berlian yakni carrat yang artinya sama, cut
atau potongan.
Selain faktor caribou, bukti lain
yang menunjukkan suku Minangkabau berasal dari Eropa Timur adalah cukup banyak
kata-kata berakhiran ek a.l. seperti lambek (lamb), tabek (tub), sakek (stuck),
liyek (look) dan sangek (sting), mirip dengan nama-nama orang Polandia seperti
Jacek, Pacek atau dari Yugoslovia (Bangsa Slav) seperti Movic, Jizdic, Sovic
dan lain-lain.
Di beberapa tempat di Sumatera Barat
seperti daerah Ombilin di tepi Danau Singkarak, masih banyak ditemukan kelompok
masyarakat yang menyebut danau dengan lauik (laut).
Ini menunjukkan bahwa istilah laut
bukan berasal dari daerah pesisir melainkan dari kawasan berdanau yang notabene
adalah pegunungan (darek).
Lauik atau lake (danau) termasuk
bahasa purba, bahkan kitab suci seperti Al Quran juga menggabung makna samudera
dan danau sebagai laut, meski keduanya saling terpisah satu sama lain.
Kemiripan lain bahasa Minang dengan
unsur Eropa juga bisa ditemukan dalam kata-kata seperti mande (mother), namo
(name) dan ondeh atau aduah (ouch atau wound) yang dalam bahasa Indonesia
dipakai menjadi aduh atau waduh.
Meski Inggris modern memakai kata
free tapi dalam bahasa lama disebut fri (dibaca: frai) seperti pada kata Friday
(Jumat).
Masyarakat Eropa Timur (pengaruh
agama Ibrani) waktu itu cukup relijius, terlihat dari kebiasaan mereka
membebaskan hari Jumat dari segala kegiatan duniawi, karenanya hari itu disebut
Friday.
Dan, kata yang mirip fri dalam
bahasa Minangkabau adalah perai.
Rumpuik (rumput) dikenal karena
sifatnya yang mudah menyebar dan tumbuh di mana-mana (rampant).
Struktur kalimat yang dipakai dalam
bahasa Minang memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Sunda. Maka dapat
disimpulkan bahwa etnis Sunda adalah deutro Minangkabau atau Minang Muda.
Cukup banyak ditemukan kemiripan
bahasa Minang dengan Sunda seperti rangik (nyamuk) dalam bahasa Sundanya
rengit.
Atau, seperti hantok & hantap
(diam, cuek), tirih & tiris (bocor), sasah (cuci), gilo & gelo (gila),
urang (orang, kita), padang (lapang / terang), kanyiak dan kadinya (dekat
situ), maruhun dan karuhun (sesepuh yang bijak / saleh).
Kata karuhun (bentuk jamak dari
kuhun) ini juga dipakai oleh komunitas Ibrani di Eropa Timur sebagai marga
yakni cohen atau kahin (kohain) yang berarti garis keturunan langsung dari
nenek moyang orang-orang saleh dari Bani Harun (saudara Nabi Musa AS).
Juga, bisa dimengerti bila ada
kemiripan antara kata pagar pada Pagaruyuang dengan pajar pada Pajajaran
SUMBER :
Author: AC St Rangkayo Labieh
Penerbit: (belum ada)
Co-publisher: SurauNet
Harga: gratis (untuk para donatur)
Bandrol umum: ditentukan oleh mitra penerbit
Bagian 2
tammat
Juga, bisa dimengerti bila ada
kemiripan antara kata pagar pada Pagaruyuang dengan pajar pada Pajajaran.
Dari kaidah (grammar) bahasa Sunda
itu sendiri, pajajar adalah bentuk jamak dari pajar (pagar).
Bahasa Minang kuno juga memiliki
pola pembentukan jamak seperti Sunda (budak & barudak) seperti ambiak &
parambiak (ambil/sampel), atau sisiak & karisiak (sisik) dan ambau &
tarambau (jatuh karena kaget) atau tunjuak jadi talunjuak.
Selain itu juga amuak dan karimuak
(remuk), tabuak jadi tarubuak atau tagarubuak (terjerumus) atau sato menjadi
sarato (ikut serta).
Juga ada persamaan pada penamaan
tempat-tempat pemukiman (riang atau ruang) seperti Pariangan di Padang Panjang,
Sumatera Barat dan Priangan (parahiyangan) yang meliputi beberapa wilayah di
dataran tinggi Jawa Barat termasuk Bogor, Sukabumi, Bandung sampai ke Sumedang.
Persamaan lain juga terlihat pada
penggunaan kata-kata seperti talungkuik (tengkurap) dengan tangkuban, gadang
dengan gede, juga semisal sado (nyo) dengan sadaya (na) yang artinya semua,
atau juga baso dan basa (bahasa).
Kata-kata lain yang mirip dan umum
dipakai sampai hari ini adalah kama / kamano dengan kamana, ada juga sia dengan
saha, atau bara dengan sabaraha (berapa), dan umpamo (umpama) dengan pami atau
budak (anak), dan barek dengan beurat (berat).
Sementara kemiripan bahasa Minang
dengan bahasa Batak bisa dilihat kata-kata seperti serunai (suling batang padi)
di wilayah Karo atau seperti gadang dengan godang, ngenek dengan menek (kecil),
etek (bibi) dan uda (kakak lelaki di Minang, tapi paman di Batak) di wilayah
Mandailing.
Seperti halnya dengan suku Sunda,
Batak bisa juga disebut Minang Muda (deutro Minangkabau).
Menurut salah satu tulisan di blog
yang saya baca, salah satu marga (marga) dalam suku Batak seperti Nasution
berasal dari kata-kata Minangkabau yakni (Datuk) Nan Sati.
Akhiran on mengindikasikan sifat
posesif (kepemilikan) sehingga Nasution bisa diterjemahkan menjadi “milik
(tanah/keluarga) Nan Sati.”
Kelahiran deutro-deutro Minangkabau
seperti Deli, Batak, Jambi, Riau, Palembang, Sunda, Jawa, Banjar, Bugis, Moro
dan lain-lain dipicu a.l. oleh budaya rantau dan kultur matriarkat yang
mewariskan harta dan tanah hanya kepada kaum perempuan, sehingga kaum lelaki
lebih banyak memilih ke luar ketimbang berdiam di kampung asal.
Setelah menetap di satu tempat,
mereka umumnya tak lagi memakai adat matriarkat, dan mulai menciptakan kultur
dan pola peradaban baru seiring masuknya pendatang Hindu dan Budha dari wilayah
Asia lainnya.
Salah satu ciri-ciri deutro yang
sulit dipungkiri adalah gonjong (atap lancip) pada rumah-rumah adat di
Nusantara yang semakin mengecil, jauh lebih kecil dibanding yang aslinya di
Sumatera Barat atau tudung kepala pada pakaian adat wanita yang semakin tumpul dibanding
aslinya yang runcing persis seperti tanduk, selain jumlah sunting (hiasan
kepala terbuat dari emas) yang semakin sedikit, bandingkan dengan aslinya,
menumpuk seperti sarang lebah.
Sarasah adalah tempat pemandian
alam. Pada perkampungan Minangkabau lama, tempat tersebut berada di sebelah
Selatan (South) dari Istana Pagaruyung.
Dari uraian dan tabel di atas
jelaslah bahwa asal muasal bahasa Minangkabau bukanlah dari bahasa Arab, karena
banyak kemiripan dengan bahasa Eropa Timur (Nordic) yang salah satu contoh
peninggalan peradaban dan bahasa Nordic itu sendiri bisa dilihat pada Inggris,
Jerman dan Prancis.
Kesusasteraan Arab Melayu (baik
bahasa maupun tulisan) baru muncul setelah dipengaruhi oleh masuknya peradaban
dan ajaran Islam ke Nusantara pada periode berikutnya (dimulai sekitar 600
Masehi).
Islam berusaha mengikis habis
unsur-unsur Ibrani yang melekat pada suku Minangkabau karena dalam kitab suci
Al Quran Bani Israil kerap identik dengan kemungkaran dan pembangkangan
terhadap Tuhan.
Namun tak urung, Ibnu Athir, seorang
sejarawan Islam, menyebut orang Minangkabau dengan Bani Jawi (keturunan Yahudi
atau Jewish).
Dan, istilah Java atau Pulau Jawa
(tanah Jawi) itu mulanya ditujukan untuk Pulau Sumatera.
Setidaknya demikianlah gambaran yang
diperoleh para pendatang Arab waktu itu ketika mendarat di Sumatera
Beberapa kata yang beranasir Ibrani
hingga kini sulit dihilangkan seperti surau (dari kata thorawah atau tempat
membaca Taurat) dan Labay dari kata rabai (english: rabi) serta Uda (Yehuda /
Yuda).
Bedanya, sejak Islam berkembang di
Sumatera, surau beralih fungsi sebagai langgar atau mushola sementara gelar
labay dipakaikan untuk ustadz atau ulama meskipun gelar seperti buya / abuya
(bapak) juga digunakan.
Selain Arab, juga ada beberapa kata
lain dari unsur Eropa yang lebih tepat yaitu abbe (kepala biara) atau abbeye
(tempat ibadah) dari bahasa Prancis.
Artinya, kata buya lebih Aramia
ketimbang Arabia, meski keduanya berinduk pada unsur yang sama yakni Aramaic
(Bahasa Aram yang dipakai anak keturunan Nabi Ibrahim AS).
Sebelum periode tersebut (300 SM s/d
600 M), selama 9 abad bahasa Minangkabau masih didominasi oleh pengaruh bahasa
Eropa dan Mongolithic (sekarang Mandarin/China).
Pengaruh unsur Mongolithic terllihat
dari kata-kata seperti uni yang dalam bahasa Mandarin berarti perempuan. Di
Minang kini, kata itu dipakai untuk sebutan kakak perempuan (sister).
Selain itu juga ada kata-kata
seperti caia atau aia (cair, air) dari kata chi atau panggilan waang (you) atau
ang dan hang dari kata wang, nama lazim pria Mongolithic.
Sebab utama terjadinya pembauran ras
Eropa dengan perempuan China tersebut adalah perkawinan massal yang digagas
Iskandar antara pasukannya yang didominasi suku-suku Ibrani (Yehuda) dengan
perempuan Mongolithic (sekarang China).
Pasca perkawinan, sebagian ikut misi
Zulkarnain, sebagian menetap, sebagian lain bermigrasi ke Kerala, India, via
Tibet dan sebagian ada yang menyeberang ke Okinawa menjadi cikal bakal orang
Jepang sekarang, dan sisanya menyebar ke wilayah-wilayah Indocina termasuk
Kamboja.
Kini masih ditemukan di wilayah
dekat jalur Mekong satu komunitas kecil penganut adat matrilineal bernama Mosuo
di propinsi Yunan dan Sechuan, sekitar Danau Lugu yang berada di ketinggian
hampir 3.000 meter di atas permukaan laut.
Bedanya, Minangkabau selain
matrilineal juga menerapkan matriarkat di mana hak atas properti dan warisan
jatuh di tangan perempuan dan mengenyampingkan peran ayah karena hampir semua
urusan dipegang oleh saudara lelaki dari ibu.
Tapi dalam soal matriarkat (kewenangan
perempuan) mungkin Kerala lebih mirip dengan Minangkabau, meskipun dari sisi
warisan, terutama Kerala modern, jatuh ke tangan anak lelaki. Selain Kerala,
beberapa etnis lain di India sampai hari ini juga masih dikenal matrilineal.
Kisah Zulkarnain direkam jelas dalam
Al Quran yang menggambarkan ia sebagai arsitek yang dimintai tolong untuk
mendirikan Tembok Besar (Great Wall) China.
Periode dinasti yang berkuasa di
China waktu tembok itu dibangun cocok dengan masa hidup Iskandar (356-323 SM).
Sebelum masuk ke China, Iskandar
terlebih dulu menaklukkan Persia (333 SM) ditandai dengan penyerahan wilayah
Mesir oleh raja Persia bernama Satrap kepada Zulkarnain.
Di situ, Zulkarnain membangun kota
(untuk mengenang kejayaan moyangnya bernama Nabi Yusuf AS di Mesir) dan diberi
nama Iskandariyah atau Alexandria, sehingga banyak etnis Yahudi yang tadinya
warga Yunani bermukim menjadi penduduk Mesir.
Mungkin karena adanya kisah dalam Al
Quran itulah, kaum orientalis seakan berpikir untuk mencoba melenyapkan sisi
sejarah yang terkesan membesarkan Islam pada figur Iskandar yang bergelar
Zulkarnain.
Padahal, kecuali Muhammad (dari
Ismail), semua nabi dari keturunan Ibrahim, berasal dari etnis Bani Israil
(Yakub) mulai dari Yusuf (Yahudi masuk Mesir), Musa (Yahudi ke luar dari Mesir)
sampai ke yang berpredikat raja-raja seperti Daud dan Sulaiman sampai ke
Zulkarnain (Yahudi kembali ke Mesir) hingga Isa (Palestina).
Pada masa Rasulullah Muhammad SAW,
Yahudi karena permusuhannya dengan Muslim, diusir dari Makkah, namun masih
boleh menempati Madinah. Tapi setelah beliau wafat, Yahudi lambat laun hengkang
dari Madinah menuju Syria, Irak, Iran dan Palestina.
Dan di masa khalifah Usman,
Palestina kembali direbut umat Islam dan Yahudi kembali berdiaspora ke seluruh
Eropa bahkan sampai ke China sebelum akhirnya kembali ke Palestina setelah
kejatuhan Turki oleh tentara Eropa di bawah komando Inggris yang memberi hak
kepada Israel untuk mendirikan negara Zionis di Palestina.
Namun entah kenapa, sengaja atau
tidak, fakta-fakta tentang Zulkarnain sebagai Nabi tidak dijadikan magnitude
oleh sejarawan Barat terutama dari kelompok orientalis.
Sama halnya seperti penemuan benua
Atlantis oleh Profesor Santos yang diyakini adalah Nusantara, tapi ternyata
tidak menimbulkan gaung besar di kalangan ilmuwan Barat.
Tapi yang lebih penting dari semua
itu adalah penggunaan istilah zulkarnain itu sendiri yang dalam bahasa Arab
maupun Persia artinya hampir sama yaitu, bertanduk dua.
Kata zul berarti definitif seperti
pada kata ‘the’ (Inggris) atau al (Arab), karan (crown) berarti mahkota atau
tanduk dan ain berarti dua atau sepasang.
Sejarawan menggambarkan
kecenderungan Iskandar memilih tanduk-tanduk yang lebih besar setiap kali
berhasil menaklukkan suatu wilayah seperti tanduk domba gunung dan kambing
gurun. Ada juga kisah tentang tanduknya yang patah.
Di akhir penaklukannya, Iskandar
memilih tanduk kerbau, tanduk terbesar sebagai simbol pencapaian yang besar
pula.
Simbol tanduk kerbau juga sebagai
penghargaan kepada guru-guru beliau, Aristoteles, Plato dan Socrates, yang
mewasiatkan tentang benua yang hilang (Atlantis) di mana dulu pernah hidup kaum
yang menggunakan ciri atau simbol berupa tanduk kerbau.
Satu artefak berupa koin yang
dipakai di masa Iskandariyah (Mesir pasca penaklukan Iskandar Zulkarnain)
menggambarkan polemik tentang tanduk tersebut.
Pada koin itu terlihat Iskandar
memasang dua tanduk kambing gurun di sisi kanan dan kiri kepalanya.
Artefak itu menjelaskan bahwa
penaklukan Mesir terjadi sebelum Iskandar menaklukkan Persia dan China di mana
ia mulai memakai tanduk domba gunung, sebelum akhirnya memilih menetap di
Sumatera dengan simbol kerajaan berupa tanduk kerbau.
Selain itu, juga bisa dimaklumi bila
di Minangkabau kuno, suami memanggil istrinya dengan sebutan Uni sementara
istri memanggil suaminya dengan sebutan Uda (dari kata Yehuda).
Dalam peradaban moderen, kata uda
dipakai untuk menyebut kakak lelaki dan uni untuk kakak perempuan. Terjadi
sedikit pergeseran makna di situ, seiring berjalannya waktu.
Karena bahasa yang dipakai Raja Iskandar
adalah Asyrian (bagian dari Aramaic muda), maka dapat disimpulkan bahwa bahasa
Minangkabau juga termasuk kelompok Aramaic.
Di kalangan ahli bahasa kini lebih
populer dengan istilah West Semitic Language, namun yang paling familiar di
telinga awam adalah austronesia.
Bahwa kemudian Islam gelombang kedua
masuk lewat kaum imigran dari Gujarat dan Malayalam yang menandai kemunculan
tulisan Arab Melayu sekitar abad-13, tidak serta merta menghilangkan induk
bahasa itu sendiri, Minangkabau.
Menurut Tambo, Nabi Nuh menyuruh
tiga anaknya untuk memimpin ekspedisi peradaban dan pemukiman baru
(taruko/track) masing-masing ke Afrika, Eropa dan Asia.
Jadi tidaklah heran jika banyak
kemiripan bahasa-bahasa purba antara peradaban ketiga benua yang diwakili oleh
Mesir, Mesopotamia dan India.
Hubungan itu bisa dilihat pada
kata-kata seperti harakul, hercules dan arga yang berarti gunung yang besar dan
kokoh. Dalam bahasa Indonesia dipakai kata argo.
Karena itu, perahu Nabi Nuh disebut
juga dengan ‘arch.’
Kerinduan bangsa Eropa terhadap
peradaban tua (terutama Atlantis), memunculkan satu disiplin ilmu yang disebut
archeology yang kerjanya menggali dan terus menggali.
Terobsesi oleh cerita tentang
Atlantis menjadikan seorang Iskandar menempuh perjalanan dari Barat ke Timur
sampai akhirnya mendarat di Bumi Nusantara yaitu Pulau Sumatera.
Dalam Al Quran benua Asia
digambarkan sebagai ‘lumpur hitam’ (tafsiran jumhur ulama).
Kata asia itu sendiri berasal dari
unsur Aramaic yang berarti berdebu atau berlumpur. Pada tabel bisa dilihat
kemiripan kata itu dengan asok (Minangkabau) dan ash (Inggris).
Profil Iskandar seperti yang
ditayangkan dalam filem Alexander tersirat pembunuhan karakter karena dibumbui
perilaku homoseksual.
Itu terjadi karena mereka lebih
memandang Alexander sebagai figur sejarah, bukan figur dogmatis reliji di mana
ia berperan sebagai nabi pembawa risalah Islam sekaligus raja di tiga benua.
Perilaku Helenistik Yunani baru
muncul setelah sepeninggal beliau pada 323 SM dan hanya bertahan sebentar
karena seiring bangkitnya imperium Romawi yang ditandai dengan takluknya Raja
Philip V kepada pasukan Romawi di Kynoskephalai pada 197 SM.
Jadi sangat tidak beralasan kalau
Alexander dituduh sebagai pembawa pengaruh helenistik ke tanah Palestina.
Alexander, Raja sekaligus Nabi yang
bergelar Zulkarnain (Si Dua Tanduk) atau “Yang Bertanduk Dua” karena kata ‘zul’
juga berarti posesif, dengan modal ‘obsesi Atlantis’ bisa menaklukkan tiga
benua, adalah prestasi terbesar dalam sejarah peradaban umat.
Hanya saja, masuknya Islam menjadikan
sekalangan umat di Nusantara merasa malu telah memiliki masa lalu terkait etnis
Yahudi yang dikenal sebagai kaum pembangkang.
Sehingga, muncullah dikotomi antara
Bani Israil dan Yahudi. Padahal, Yehuda adalah nama salah satu dari 12 anak
Nabi Yakub AS yang bergelar Israil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar